Kamis, 17 November 2011

Teorisasi Penelitian Kualitatif


TEORISASI DALAM PENELITIAN  KUALITATIF

Oleh: Husnul Hamidiyah

I. Sistimatika Teori
                         
            Melihat kompleknya fenomena sosial, maka ilmu sosial berkembang begitu kompleks dan rumit, namun apabila disusun strukturnya, maka dalam ilmu-ilmu sosial selain paradigma dikenal pula struktur ilmu sosial, seperi rumpun teori yang dapat dikelompokkan ke dalam grand theory, middle theory, dan application theory. Dari struktur ini kemudian menghasilkan konseptualisasi dan metodologi. Grand theory umumnya adalah teori-teori makro yang mendasari berbagai teori di bawahnya. Contohnya, teori-teori struktural fungsional dan teori konflik selalu disebut sebagai grand theory dalam ilmu-ilmu sosial.
            Kunci utama memilih teori dalam penelitian adalah selain memahami konteks formal dan material sebuah teori, juga dituntut memahami teori berdasarkan konteks sejarah maupun konteks sosial dimana teori itu dilahirkan. Sehingga bila teori itu digunakan, peneliti akan memahami struktur masing-masing teori itu bahkan mampu menyusun suatu skema perkembangan teori dari masa lalu sampai pada konteks di mana seseorang melakukan penelitian.
            Penelitian ilmu sosial dan pendidikan dapat dilakukan dapat dilakukan dengan menggunakan dua model paradigma penelitian, yaitu pendekatan penelitian kuantitatif (positivistik) dengan pola pikir deduktif dan pendekatan kualitatif (naturalistik) dengan pola fikir induktif. Pendekatan kualitatif (naturalistik) merupakan pendekatan penelitian yang memerlukan pemahaman yang mendalam dan menyeluruh berhubungan dengan obyek yang diteliti bagi menjawab permasalahan untuk mendapat data-data kemudian dianalisis dan mendapat kesimpulan penelitian dalam situasi dan kondisi tertentu. Berikut ini adalah model paradigma pendekatan kualitatif menurut Iskandar (2010: 21).

Tabel 1 Model Paradigma Pendekatan Kualitatif
Dipandang dari
Karakteristik
Asumsi-asumsi
1.    Realitas adalah subjektif dan tidak bebas nilai/ bias.
2.    Menguasai fenomena-fenomena secara mendalam.
3.    Variabel penelitian kompleks, memiliki hubungan dengan fenomena, dan sulit diukur dengan statistical.
4.    Peneliti berinteraksi dengan subjek yang diteliti.
Pendekatan Penelitian
5.    Proses induktif
6.    Berakhir dengan hipotesis atau teori grounded.
7.    Proses kerja bersifat simultan atau kontinyu.
Peran Peneliti dalam Penelitian
8.    Peneliti menjadi bagian dari subjek penelitian.
9.    Pemahaman dan penjelasan secara empati
            Dalam proses pengumpulan bukti, peneliti yang menggunakan pendekatan kualitatif sebenarnya senantiasa membuat deskripsi cerita, yang dapat memberikan gambaran tentang sebab dan akibat, tentang hubungan antara persoalan dalam fenomena-fenomena yang mereka teliti, tentang tema dan kategori alur cerita yang diungkapkan oleh subjek yang diteliti.
            Seorang peneliti yang menggunakan pendekatan kualitatif merupakan seorang interpretive yang membuat penilaian serta memberi makna kepada apa yang dialami atau berlaku dalam fenomena-fenomena yang diteliti, melakukan proses analisis induktif dengan membuat generalisasi secara analitik tentang fenomena-fenomena yang berhubungan dengan penelitian tersebut.
           

II. Ragam Teori dan Teorisasi dalam Penelitian
            Teori-teori sosial bergerak pada empat tingkatan realitas (baik yang bersifat makro maupun mikro) hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Bungin (2010:33-41), yaitu:
  1. Realitas tingkat makroobjektif
Menunjuk pada pola-pola struktural umum yang kasat mata dan berada terpisah dari diri manusia (seperti masyarakat, birokrasi, hukum, arsitektur, dan lain-lain).
Kajian ini terkait dengan teori yang berada dalam strategi teoretis fakta sosial seperti teori Karl Marx tentang determinasi ekonomi (teori infrastruktur dan suprastuktur).
  1. Realitas tingkat makrosubjektif
Menunjuk pada pola-pola struktural umum yang tidak kasat mata dalam pengetahuan manusia (seperti kultur, norma, dan nilai-nilai).
Kajian ini terkait dengan strategi teoretis idealis, yakni berusaha menjelaskan ciri dasar kehidupan sosial dengan merujuk pada daya kreatif pikiran manusia. Manusia menciptakan rangkaian gagasan umum dalam mengarahkan pola tingkah lakunya. Teori yang mendukung adalah teori yang diungkapkan oleh antropolog Shery Ortner tentang peranan jenis kelamin dalam berbagai kebudayaan manusia.
  1. Realitas tingkat mikroobjektif
Menunjuk pada fakta-fakta berupa tingkah laku, aksi, dan interaksi sosial.
Kajian ini terkait dengan strategi teori aksi sosial. Teori aksi dari Talcott Parsons adalah teori pendukung realitas tingkat mikroobjektif ini. Seorang individu dikatakan memiliki kemampuan untuk memilih berbagai alternatif tindakan secara aktif, kreatif, dan evaluatif yang memungkinkan tercapainya tujuan khas yang diingnkan. Manusia secara subjektif dapat memberikan makna terhadap realitas objektif yang dihadapi. Karena itu tingkah laku manusia Parsons menyebut tingkah laku manusia lebih kepada action daripada behavior.
  1. Realitas tingkat mikrosubjektif
Menunjuk pada berbagai konstruksi sosial tentang kenyataan. Strategi teori yang kompatibel untuk hal ini adalah strategi teori interaksionis-simbolik seperti diajukan G.H. Mead dan C.H. Cooley maupun para penganut interaksionis modern seperti Goffman dan Blumer.  Teori interaksi simbolik menekankan pada kemampuan individu untuk berinteraksi dan menggunakan symbol-simbol, serta memaksakan definisi-definisi realitas subjektif mereka sendiri terhadap situasi sosial yang mereka hadapi.
Cara untuk merekam makna-makna simbolik itu salah satunya adalah lewat apa yang dianjurkan Randall Collins dalam Bungin (2010: 42), yakni mengamati kehidupan sehari-hari yang dianggap penting dengan alasan.
1.      Kehidupan sehari-hari sangat riil.
2.      Makna yang ingin dinyatakan orang atas tindakannya.
3.      How is society possible. Kemungkinan bagi subjek-aktor untuk mempertahankan hubungan sosial dan kelompok/
4.      Tingkah laku sosial itu menyatu dengan kehidupan manusia.

III. Aliran Teori yang Mendasari Teorisasi dalam Penelitian
            Ada empat aliran teori dalam ilmu sosial yang lazim diasosiasikan dengan pendekatan penelitian kualitatif (Bungin, 2008: 7-12), yaitu teori tentang:
  1. Budaya
a.       Budaya sebagai suatu sistem atau organisasi makna.
b.      Budaya sebagai sistem adaptasi kelompok masyarakat terhadap lingkungannya.
  1. Fenomenologi: apa yang tampak di permukaan dan pola perilaku manusia sehari-hari.
  2. Etnomenologi: ungkapan sehari-hari, isi percakapan sehari-hari dalam masyarakat bisa dijadikan sebagai indikasi bagaimana kerangka berpikir beserts asumsi-asumsi mereka di dalam memahami, menafsirkan, dan menyikapi berbagai hal yang dihadapi.
  3. Interaksionalisme simbolik: teori ini memiliki tiga premis utama, yaitu:
a.       Manusia bertindak terhadap sesuatu (benda, orang, atau ide) atas dasar makna yang diberikan kepada sesuatu itu.
b.      Makna tentang sesuatu yang diperoleh, dibentuk, termasuk direvisi melalui proses interaksi dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Pemaknaan terhadap sesuatu dalam bertindak atau berinteraksi tidaklah berlangsung mekanisme, melainkan melibatkan proses interpretasi.
Manusia bukan sebagai robot yang secara otomatis berperilaku sebagaimana tuntutan struktur sosial. Itu dikarenakan adanya proses interpretasi (pada diri manusia) mengenai berbagai hal pada saat ia hendak bertindak pada suatu situasi. Oleh sebab itu analisis makna yang berlangsung di tingkat interaksi menjadi suatu keperluan untuk bisa memahami mengapa para pelaku berpola tindakan tertentu.
Itu menghajatkan proses observasi dan pelacakan secara intensif, yang hanya mungkin melalui pendekatan penelitian kualitatif.
            Label tentang jenis penelitian kualitatif di antaranya adalah Etnografi, Studi Kasus, Penelitian Teori Grounded, dan Life History. Masing-masing jenis memiliki karakteristik tersendiri, baik dalam fokus dan tujuan penelitian maupun dalam strategi penelitiannya itu sendiri. Dalam merancang suatu penelitian kualitatif tentunya perlu dipertegas perspektif teoretis yang dijadikan acuan serta jenis kualitatif yang hendak digunakan. Berikut ini adalah peta teori terkait penelitian kualitatif.

Tabel 2 Peta Teori[1]
BIDANG DAN TOKOH
TEORI
MAKRO
TEMA ANALISIS
Budaya
     Comte
     Sorokin
     Ogburn
     H. Maine

Sosial
     E. Durkheim
     F. Tonnies
     Parsons





Politik
     Max Weber

Teologis-metafisis vs. positif
Mentalitas ideasional vs. indrawi
Kebudayaan Materi vs. nonmateri
Status vs. kontrak


Solidaritas mekanik vs. organis
Gemeinschaft vs. Gessellschaft
Afektif vs. Netral Afeksi
Orientasi diri vs. Kolektif
Partikularisme vs. Universalisme
Askripsi vs. Prestasi
Spesifitas vs. Difusitas


Karismatik
Tradisional
Rasional
Ekonomi
     Karl Marx

Infrastruktur dan Suprastrukur


RECOMMENDED LITERATURE
v  Bungin, Burhan. 2010. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
v  Bungin, Burhan. 2008. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers.
v  Iskandar. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial. Jakarta: GP Press.




[1] Bernard L. Tanja dalam makalahnya yang berjudul “Ragam Teori dan Teorisasi dalam Rangka Penelitian”.
Materi pelatihan Metodologi Penelitian Sosial yang dilaksanak oleh The BuBu Center, di Surabaya, Hotel Tunjungan, tanggal 12-14 April 2006.

Tidak ada komentar: