TEORISASI DALAM
PENELITIAN KUALITATIF
Oleh: Husnul Hamidiyah
I. Sistimatika Teori
Melihat kompleknya fenomena sosial,
maka ilmu sosial berkembang begitu kompleks dan rumit, namun apabila disusun strukturnya,
maka dalam ilmu-ilmu sosial selain paradigma dikenal pula struktur ilmu sosial,
seperi rumpun teori yang dapat dikelompokkan ke dalam grand theory, middle
theory, dan application theory. Dari struktur ini kemudian
menghasilkan konseptualisasi dan metodologi. Grand theory umumnya adalah
teori-teori makro yang mendasari berbagai teori di bawahnya. Contohnya,
teori-teori struktural fungsional dan teori konflik selalu disebut sebagai grand
theory dalam ilmu-ilmu sosial.
Kunci utama memilih teori dalam
penelitian adalah selain memahami konteks formal dan material sebuah teori,
juga dituntut memahami teori berdasarkan konteks sejarah maupun konteks sosial
dimana teori itu dilahirkan. Sehingga bila teori itu digunakan, peneliti akan
memahami struktur masing-masing teori itu bahkan mampu menyusun suatu skema
perkembangan teori dari masa lalu sampai pada konteks di mana seseorang
melakukan penelitian.
Penelitian ilmu sosial dan
pendidikan dapat dilakukan dapat dilakukan dengan menggunakan dua model paradigma
penelitian, yaitu pendekatan penelitian kuantitatif (positivistik)
dengan pola pikir deduktif dan pendekatan kualitatif (naturalistik)
dengan pola fikir induktif. Pendekatan kualitatif (naturalistik) merupakan
pendekatan penelitian yang memerlukan pemahaman yang mendalam dan menyeluruh
berhubungan dengan obyek yang diteliti bagi menjawab permasalahan untuk
mendapat data-data kemudian dianalisis dan mendapat kesimpulan penelitian dalam
situasi dan kondisi tertentu. Berikut ini adalah model paradigma pendekatan
kualitatif menurut Iskandar (2010: 21).
Tabel 1 Model Paradigma
Pendekatan Kualitatif
Dipandang
dari
|
Karakteristik
|
Asumsi-asumsi
|
1. Realitas
adalah subjektif dan tidak bebas nilai/ bias.
2. Menguasai
fenomena-fenomena secara mendalam.
3. Variabel
penelitian kompleks, memiliki hubungan dengan fenomena, dan sulit diukur
dengan statistical.
4. Peneliti
berinteraksi dengan subjek yang diteliti.
|
Pendekatan
Penelitian
|
5. Proses
induktif
6. Berakhir
dengan hipotesis atau teori grounded.
7. Proses
kerja bersifat simultan atau kontinyu.
|
Peran
Peneliti dalam Penelitian
|
8. Peneliti
menjadi bagian dari subjek penelitian.
9. Pemahaman
dan penjelasan secara empati
|
Dalam proses pengumpulan bukti,
peneliti yang menggunakan pendekatan kualitatif sebenarnya senantiasa membuat
deskripsi cerita, yang dapat memberikan gambaran tentang sebab dan akibat,
tentang hubungan antara persoalan dalam fenomena-fenomena yang mereka teliti,
tentang tema dan kategori alur cerita yang diungkapkan oleh subjek yang
diteliti.
Seorang peneliti yang menggunakan
pendekatan kualitatif merupakan seorang interpretive yang membuat
penilaian serta memberi makna kepada apa yang dialami atau berlaku dalam
fenomena-fenomena yang diteliti, melakukan proses analisis induktif dengan
membuat generalisasi secara analitik tentang fenomena-fenomena yang berhubungan
dengan penelitian tersebut.
II. Ragam Teori dan Teorisasi dalam Penelitian
Teori-teori
sosial bergerak pada empat tingkatan realitas (baik yang bersifat makro maupun
mikro) hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Bungin (2010:33-41),
yaitu:
- Realitas tingkat makroobjektif
Menunjuk pada pola-pola struktural umum
yang kasat mata dan berada terpisah dari diri manusia (seperti masyarakat,
birokrasi, hukum, arsitektur, dan lain-lain).
Kajian ini terkait dengan teori yang
berada dalam strategi teoretis fakta sosial seperti teori Karl Marx tentang
determinasi ekonomi (teori infrastruktur dan suprastuktur).
- Realitas tingkat makrosubjektif
Menunjuk pada pola-pola struktural umum
yang tidak kasat mata dalam pengetahuan manusia (seperti kultur, norma, dan
nilai-nilai).
Kajian ini terkait dengan strategi
teoretis idealis, yakni berusaha menjelaskan ciri dasar kehidupan sosial dengan
merujuk pada daya kreatif pikiran manusia. Manusia menciptakan rangkaian
gagasan umum dalam mengarahkan pola tingkah lakunya. Teori yang mendukung
adalah teori yang diungkapkan oleh antropolog Shery Ortner tentang
peranan jenis kelamin dalam berbagai kebudayaan manusia.
- Realitas tingkat mikroobjektif
Menunjuk pada fakta-fakta berupa tingkah
laku, aksi, dan interaksi sosial.
Kajian ini terkait dengan strategi teori
aksi sosial. Teori aksi dari Talcott Parsons adalah teori pendukung
realitas tingkat mikroobjektif ini. Seorang individu dikatakan memiliki
kemampuan untuk memilih berbagai alternatif tindakan secara aktif, kreatif, dan
evaluatif yang memungkinkan tercapainya tujuan khas yang diingnkan. Manusia
secara subjektif dapat memberikan makna terhadap realitas objektif yang
dihadapi. Karena itu tingkah laku manusia Parsons menyebut tingkah laku manusia
lebih kepada action daripada behavior.
- Realitas tingkat mikrosubjektif
Menunjuk pada berbagai konstruksi sosial
tentang kenyataan. Strategi teori yang kompatibel untuk hal ini adalah strategi
teori interaksionis-simbolik seperti diajukan G.H. Mead dan C.H. Cooley maupun
para penganut interaksionis modern seperti Goffman dan Blumer. Teori interaksi simbolik menekankan pada
kemampuan individu untuk berinteraksi dan menggunakan symbol-simbol, serta
memaksakan definisi-definisi realitas subjektif mereka sendiri terhadap situasi
sosial yang mereka hadapi.
Cara
untuk merekam makna-makna simbolik itu salah satunya adalah lewat apa yang
dianjurkan Randall Collins dalam Bungin (2010: 42), yakni mengamati kehidupan
sehari-hari yang dianggap penting dengan alasan.
1. Kehidupan
sehari-hari sangat riil.
2. Makna
yang ingin dinyatakan orang atas tindakannya.
3. How
is society possible. Kemungkinan bagi
subjek-aktor untuk mempertahankan hubungan sosial dan kelompok/
4. Tingkah
laku sosial itu menyatu dengan kehidupan manusia.
III.
Aliran Teori yang Mendasari Teorisasi dalam Penelitian
Ada empat aliran teori dalam ilmu
sosial yang lazim diasosiasikan dengan pendekatan penelitian kualitatif
(Bungin, 2008: 7-12), yaitu teori tentang:
- Budaya
a. Budaya
sebagai suatu sistem atau organisasi makna.
b. Budaya
sebagai sistem adaptasi kelompok masyarakat terhadap lingkungannya.
- Fenomenologi: apa yang tampak di permukaan dan pola perilaku manusia sehari-hari.
- Etnomenologi: ungkapan sehari-hari, isi percakapan sehari-hari dalam masyarakat bisa dijadikan sebagai indikasi bagaimana kerangka berpikir beserts asumsi-asumsi mereka di dalam memahami, menafsirkan, dan menyikapi berbagai hal yang dihadapi.
- Interaksionalisme simbolik: teori ini memiliki tiga premis utama, yaitu:
a. Manusia
bertindak terhadap sesuatu (benda, orang, atau ide) atas dasar makna yang
diberikan kepada sesuatu itu.
b. Makna
tentang sesuatu yang diperoleh, dibentuk, termasuk direvisi melalui proses
interaksi dalam kehidupan sehari-hari.
c. Pemaknaan
terhadap sesuatu dalam bertindak atau berinteraksi tidaklah berlangsung
mekanisme, melainkan melibatkan proses interpretasi.
Manusia bukan sebagai robot yang secara
otomatis berperilaku sebagaimana tuntutan struktur sosial. Itu dikarenakan
adanya proses interpretasi (pada diri manusia) mengenai berbagai hal pada saat
ia hendak bertindak pada suatu situasi. Oleh sebab itu analisis makna yang
berlangsung di tingkat interaksi menjadi suatu keperluan untuk bisa memahami
mengapa para pelaku berpola tindakan tertentu.
Itu menghajatkan proses observasi dan
pelacakan secara intensif, yang hanya mungkin melalui pendekatan penelitian
kualitatif.
Label tentang jenis penelitian
kualitatif di antaranya adalah Etnografi, Studi Kasus, Penelitian Teori Grounded,
dan Life History. Masing-masing jenis memiliki karakteristik tersendiri,
baik dalam fokus dan tujuan penelitian maupun dalam strategi penelitiannya itu
sendiri. Dalam merancang suatu penelitian kualitatif tentunya perlu dipertegas
perspektif teoretis yang dijadikan acuan serta jenis kualitatif yang hendak
digunakan. Berikut ini adalah peta teori terkait penelitian kualitatif.
Tabel 2 Peta Teori[1]
BIDANG DAN TOKOH
|
TEORI
|
MAKRO
|
TEMA ANALISIS
|
Budaya
Comte
Sorokin
Ogburn
H. Maine
Sosial
E. Durkheim
F. Tonnies
Parsons
Politik
Max Weber
|
Teologis-metafisis vs. positif
Mentalitas ideasional vs.
indrawi
Kebudayaan Materi vs. nonmateri
Status vs. kontrak
Solidaritas mekanik vs. organis
Gemeinschaft vs. Gessellschaft
Afektif vs. Netral Afeksi
Orientasi diri vs. Kolektif
Partikularisme vs.
Universalisme
Askripsi vs. Prestasi
Spesifitas vs. Difusitas
Karismatik
Tradisional
Rasional
|
Ekonomi
Karl Marx
|
Infrastruktur dan Suprastrukur
|
RECOMMENDED LITERATURE
v Bungin, Burhan. 2010. Penelitian
Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
v Bungin, Burhan. 2008. Analisis
Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers.
v Iskandar. 2010. Metodologi
Penelitian Pendidikan dan Sosial. Jakarta: GP Press.
[1] Bernard L. Tanja
dalam makalahnya yang berjudul “Ragam Teori dan Teorisasi dalam Rangka
Penelitian”.
Materi
pelatihan Metodologi Penelitian Sosial yang dilaksanak oleh The BuBu Center, di
Surabaya, Hotel Tunjungan, tanggal 12-14 April 2006.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar