Rabu, 15 Februari 2012


TEORI PSIKOANALISIS
Oleh: Husnul Hamidiyah

 
                                


I.     Pendahuluan
            Psikoanalisis merupakan salah satu aliran besar dalam sejarah ilmu pengetahuan manusia. Layaknya aliran besar lainnya, marxisme contohnya, psikoanalisis telah merambah berbagai sektor keilmuan seperti sastra, sosiologi, filsafat dan kesenian. Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Sigmund Freud sendiri dilahirkan di Moravia pada tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939. Bila beberapa pengikut Freud di kemudian hari menyimpang dari ajarannya dan menempuh jalan sendiri-sendiri, mereka juga meninggalkan istilah psikoanalisis dan memilih suatu nama baru untuk menunjukan ajaran mereka. Contoh yang terkenal adalah Carl Gustav Jung dan Alfred Adler, yang menciptakan nama "psikologi analitis" (en: Analitycal psychology) dan "psikologi individual" (en: Individual psychology) bagi ajaran masing-masing. Psikoanalisis memiliki tiga penerapan: 1) suatu metoda penelitian dari pikiran; 2) suatu ilmu pengetahuan sistematis mengenai perilaku manusia; dan 3) suatu metoda perlakuan terhadap penyakit psikologis atau emosional. Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (en:conscious), prasadar (en:preconscious), dan tak-sadar (unconscious).

II. Awal dan perkembangan Teori Psikoanalisis
Jacques Lacan merupakan salah satu pembaca Freud yang secara tegas menolak pendapat Freud tentang berkuasanya ego atas id. Lacan merupakan seorang psikoanalis kebangsaan Perancis yang begitu berminat pada ide-ide Freud muda. Freud yang dianggap masih memiliki tenaga untuk mempertahankan kekuatan ketidaksadaran sebagai faktor pendorong kepribadian. Bagi Lacan, kontrol ego atas id adalah sesuatu yang mustahil. Bagaimanapun, ego merupakan sebuah produk jadi dari id yang terbentuk melalui mekanisme kesalahan mengenali (méconaît) diri di hadapan cermin pada sebuah fase yang disebut fase cermin (statu de miroir). Ego adalah ilusi atau pseudo-identitas. Statu de miroir merupakan fase yang pada akhirnya menentukan keseluruhan identifikasi dalam diri manusia. Keseluruhan eksistensi manusia, menurut Lacan, mau atau tidak, dipengaruhi dan dikontrol oleh ketidaksadaran. Itulah jantung pemikiran Lacan.
Teori Freud tentang tahap perkembangan psikoseksual memiliki tiga tahapan polimorfosa pada bayi yaitu oral, anal, dan phallic, inilah kompleksitas pembentuk manusia menjadi mahluk “dewasa” (Boeree, 2008: 420). Akan tetapi Lacan menciptakan kategori berbeda dengan Freud untuk menjelaskan lintasan atau tahapan dari bayi menuju dewasa. Tiga konsep itu yaitu kebutuhan (need), permintaan (demand), dan hasrat (desire) yang berhubungan dengan tiga fase perkembangan atau tiga ranah dimana manusia berkembang, yaitu:
1. Fase Pra-Oedipal
Dalam fase ini, subjek (bayi) sama sekali belum mengenal batasan ego. Ia tak menyadari batasan antara tubuh ibu dengan tubuhnya sendiri. Bayi dan ibu masih merupakan kesatuan sehingga identifikasi belum terjadi pada fase ini. Menurut Lacan bayi yang belum memiliki pemisahan ini hanya memiliki satu kebutuhan yang dapat dipuaskan dan tidak membuat perbedaan antara dirinya dengan objek yang memuaskan kebutuhannya sehingga eksis diwilayah Yang Real.
2. Fase cermin atau tatanan Imajiner
Fase ini merupakan bentuk praverbal yang logikanya bersifat visual. Fase ini terjadi pada bayi berusia 6 bulan dan merupakan fase paling krusial untuk identifikasi perkembangan ego. Misalkan ketika anak tersebut bercermin, dirinya yang ada di cermin tersebut bersifat imajiner, karena yang ada di dalam cermin tersebut hanya merupakan image. Saat itulah si anak mulai belajar untuk menciptakan konstruksi dirinya. Kemudian ketika dewasa dia akan terus membuat identifikasi imajiner dengan objek-objek yang ditemuinya. Menurut Lacan ini merupakan fase normal dalam perkembangan diri.
3. Fase Oedipal atau Tatanan Simbolik
Fase ini terjadi ketika anak harus berpisah dengan ibunya atau harus mengalami kastrasi. Anak tak lagi melihat dirinya satu kesatuan dengan ibunya tetapi memandang ibunya sebagai Liyan. Hubungan ibu dengan anak ini juga diperparah oleh kehadiran ayah, ayah disini bersifat metafora. Anak harus kehilangan objek hasratnya, yaitu ibu karena ia harus menerima kehadiran “ayah simbolik”. Anak harus mengikuti apa yang dikehendaki oleh ibunya, yaitu menyerap bahasa, penanda-penanda. Dengan demikian anak harus menerima mekanisme imaji diri lain yang kerap bersifat represif (super ego) yang fungsinya menerima dan mencerna image diluar diri, berupa representasi dari berbagai versi hukum, aturan, konvensi, adat, tabu dan lain-lain yang diidentifikasikan dengan dirinya sendiri, inilah yang disebut dengan “simbol ayah”.

Relasi Hasrat dan Ego dalam Psikoanalisis Lacanian
Individu menurut Lacan mencampur adukkan antara hasratnya dengan hasrat orang lain. Dengan demikian hasrat untuk memiliki identitas mendorong ego untuk meyakini dirinya sebagai objek, sehingga keyakinan ini membuatnya melihat dirinya sebagai objek dari hasrat orang lain atau menghasrati dirinya dengan hasrat yang sama. Sederhananya menurut Lacan jika mencintai orang lain sesungguhnya adalah tindak mental yang narsistik begitupun sebaliknya.
Dari refleksi inilah mendorong para pengikut neofreudian seperti Rene Girard memperkenalkan konsep hipotesis mimesis. Dua konklusi Girard tentang hasrat dan mimesis. Hasrat sesungguhnya didorong oleh rasa kurang (lack) yang perlu dipenuhi. Seorang menghasrati objek bukan karena kualitas objek itu sendiri melainkan karena orang lain menghasrati objek itu dan mendapatkan keutuhan ontologis. Seseorang menginginkan mobil tetangga bukan karena kualitas mobil itu, bukan juga kecintaan sang tetangga pada mobil itu melainkan mobil itu memberikan sense of identity pada sang tetangga.
Berdasarkan pandangan Lacan ada dua bentuk hasrat yaitu hasrat menjadi. (to  be) dan hasrat memiliki (to have):
 1. Hasrat Menjadi: hasrat yang memanifestasikan dirinya dalam bentuk cinta dan identifikasi. Dalam hal ini hasrat menjadi obyek cinta -kekaguman, idealisasi, pemujaan, penghargaan- Liyan (the others).
2. Hasrat Memiliki: hasrat memiliki (materi, benda, orang, kekuasaan, posisi) sebagai sebuah cara untuk memenuhi kepuasan diri. Hasrat memiliki dalam fondasi masyarakat posmodern (kapitalisme  global) mengubah  keinginan (want)  menjadi kebutuhan (need). Artinya, kebutuhan tersebut diciptakan.
III. Konsep Teori Psikoanalisis
Freud + Saussure = Lacan
Dalam pembahasannya tentang pembagian absolut antara ketaksadaran dan kesadaran (atau antara id dan ego), Sigmund Freud memperkenalkan gagasan tentang diri manusia, atau subjek, sebagai sesuatu yang secara radikal terbagi dan terbelah (split) di antara dua wilayah kesadaran dan ketaksadaran. Bagaimana pun, bagi Freud tindakan, pemikiran, kepercayaan, dan konsep tentang “diri” utuh dideterminasi atau dibentuk oleh ketaksadaran, serta berbagai dorongan hasrat.
Ringkasnya, teori Lacan dimulai dengan ide tentang Yang Real yang merupakan state of nature, dan harus dipecahkan untuk membangun budaya. Berikutnya datang tahapan Cermin, yang membentuk Imajiner. Di sini mengulas ide tentang liyan dan mulai memahami Keliyanan sebagai prinsip atau konsep penstrukturan, dan kemudian mulai memformulasi gagasan tentang “diri”. “Diri” ini (sebagaimana terlihat di cermin) kenyataannya adalah liyan, tetapi Anda salah mengenalinya sebagai Anda, dan menyebutnya “diri”. (Atau, dalam non-teori bahasa, Anda melihat ke cermin dan mengatakan “hei, itulah aku.” Tetapi bukan—itu hanyalah citraan).
Lacan menolak anggapan Freud tentang berkuasanya ego atas Id. Menurutnya, kontrol ego atas Id adalah sesuatu yang mustahil. Selanjutnya, Lacan menjelaskan bahwa ketidaksadaran tidak lebih dari sebuah tatanan simbolik dari tradisi linguistik Saussurian. Menurutnya, ketidaksadaran sepenuhnya adalah sadar akan bahasa, dan secara khusus ia terdiri dari struktur bahasa. Bertolak dari hasrat yang senantiasa bergolak, Lacan memodifikasi teori Saussure.
Saussure mendiskusikan hubungan antara penanda (signifier) dan petanda yang membentuk tanda (signified). Sebuah tanda menjadi tanda dalam dirinya sendiri karena ia semata-mata bukan tanda yang lain. Dengan ini Saussure sesungguhnya menegaskan bahwa petanda selalu mengikuti penanda. Tanpa adanya hubungan keeratan ini maka makna tidak dapat muncul. Lacan mengatakan bahwa ego atau”Aku” (sesuatu yang dirujuk sebagai ‘diri’) hanyalah ilusi. Ia adalah produk dari hasrat itu sendiri. Hasrat merupakan kodrat manusia yang selalu berada dalam kekurangan (lack). Ego terbentuk melalui hasrat untuk memiliki identitas. Bagi Lacan, ego merupakan sesuatu yang imajiner.
IV. Contoh Penerapan                                   
            Berikut ini adalah beberapa contoh penerapan teori psikoanalisis dalam karya sastra Jepang yaitu karya Kenzaburo Oe (Jepang) yang berjudul Man’en Gannen no Futtoboru (Jeritan Lirih). Berlatar di kawasan lembah di Shikoku, Jepang. Novel ini bercerita tentang perubahan budaya yang terjadi di Jepang dan kemerosotan harga diri dalam masyarakat.
Dalam novel Jeritan Lirih, tokoh Takashi (Taka) mengalami dinamika kehidupannya yang tidak lepas dari hasrat dan impian untuk pembuktian diri. Kecemerlangan penggambaran tokoh Takashi ini digambarkan sedemikian rupa sehingga terasa gejolak semangat kehidupan yang tak kenal henti tetapi justru ternodai oleh akhir hidup yang mengenaskan sebagai wujud dari suatu kegagalan dalam meraih ‘misi hidup’. Kepribadian Takashi yang notabene sangat berbeda dengan kakaknya, Mitsusaburo, mengantar dirinya pada pemenuhan keinginannya yang sangat kuat untuk memperoleh pengakuan sebagai orang yang sama persis dengan adik kakek buyut, idolanya. Keinginan atau hasrat seperti itu terlihat sulit untuk dipenuhi.tetapi, meskipun demikian, tokoh tersebut mengisyaratkan akan simbol kekuatan dan kekuasaan.

Hasrat Tokoh Takashi dalam “Jeritan Lirih”
a. Kekaguman Takashi kepada Adik Kakek Buyutnya
Merujuk pada posisi ego menurut Lacan, dalam novel ini, ego Takashi adalah liyan, yaitu sosok adik kakek buyutnya. Kenangannya terhadap tokoh ini sangat intens dan selalu membayangi dirinya. Ia tidak senang dengan hal-hal yang bersimpangan dengan pendapatnya mengenai tokoh tersebut. Kebutuhan (need) Takashi akan keinginannya menjadi seorang pemimpin dalam sebuah pemberontakan sebagaimana halnya yang pernah dilakukan oleh adik kakek buyutnya adalah penggambaran Yang Nyata dari tataran perkembangan kepribadian menurut Lacan. Kepribadian Takashi tidak pernah utuh seperti yang ia idamkan/hasratkan dalam tataran Yang Nyata.
Permintaan (demand) Takashi akan identitas bagi dirinya guna memenuhi kebutuhan (need) tersebut terletak pada tataran Yang Imajiner. Kesadaran sebagai sebuah oknum utuh terbentuk saat bayi melihat dirinya dalam pantulan cermin. Citra cermin dikenali sebagai dirinya yang otonom sekaligus membentuk identitas. Lacan berpendapat bahwa manusia selalu berada dalam kondisi lack/ berkekurangan, dan hanya hasrat yang dapat memenuhi kekurangan (lackness) itu.
Momen kehilangan dan kebutuhan akan identitas memasukkannya pada tataran Yang Simbolik. Lacan mengatakan bahwa tatanan Yang Simbolik atau bahasa selalu menyimpan momen kehilangan atau ketiadaan, yang dibutuhkan hanyalah kata-kata ketika obyek yang diinginkan menghilang. Takashi sebagai subjek dikatakan bukan merupakan sesuatu yang utuh. Hasrat Takashi ingin menjadi seperti adik kakek buyutnya yang seorang pemberontak merupakan identifikasi. Saat subyek Takashi terhubung dengan obyek adik kakek buyut timbul rasa kagumnya maka ia harus merepresi semua hasrat yang tidak sejalan dengan ciri, keinginan-keinginan, karakter, dan  segala kualitas yang dikandung obyek tersebut.
Hasrat Takashi ingin menjadi seperti adik kakek buyutnya yang seorang pemberontak digambarkan sebagai penanda atau keinginan, maka naluri mengarahkannya untuk mencari lahan pemberontakan, sebagai obyek atau petanda, namun dengan tidak adanya petanda lahan pemberontakan seperti yang pernah ada di tahun 1860 ketika adik kakek buyutnya memimpin pemberontakan, maka naluri mengarahkannya untuk menghimpun anak-anak muda dilatih sepak bola, sebagai penanda alih yang tidak mempunyai hubungan penandaan di dalamnya. Tokoh Takashi dalam novel ini digambarkan menempuh cara-cara tertentu untuk memenuhi hasratnya seperti adik kakek buyutnya dalam memimpin pemberontakan di tahun 1860. Ia menghimpun kelompok anak muda. Kemudian menjadikan rumah utama sebagai markasnya. Selanjutnya, ia membuka lahan untuk melatih para pemuda bermain sepak bola. Rangkaian cara-cara yang ditempuh sang tokoh merupakan penanda-penanda yang lain dan mengisyaratkan makna, yaitu: untuk dapat menggerakkan sebuah pemberontakan ia membutuhkan sebuah lahan pemberontakan. Dalam hal ini Takashi melihat bahwa Kaisar dan supermarketnya telah banyak merugikan bisnis orang lembah dan ia ingin ‘memberontak’ dan ingin menjadi pemimpin pemberontakan itu. Memulai pemberontakan tidaklah mudah karena masalahnya tidak seperti persis yang dialami oleh adik kakek buyutnya pada tahun 1860. Ia, Takashi, harus menciptakan ‘masalah’ dengan melihat suasana yang terjadi di kehidupan lembah tersebut. Jawabannya adalah dominasi bisnis Kaisar dengan super marketnya. Untuk itu ia harus menyiapkan bala tentaranya.
Penanda sekumpulan anak muda berlatih sepak bola mengisyaratkan bahwa dalam kesenangan seperti itu mereka akan mudah dipengaruhi. Ketika mereka terpengaruh mereka akan menganggap Takashi sebagai pemimpinnya. Itu akan memudahkan langkah-langkah Takashi untuk melaksanakan pemberontakan dan pemenuhan akan hasrat menjadi-nya akan tercapai.
Hubungan penanda pemberontakan dan petanda lahan pemberontakan dapat dipahami dalam tataran Yang Simbolik, yaitu melalui hubungan paradigmatik dengan konsep metafora. Hubungan paradigmatik dapat dilihat dari penanda pemberontak/pemberontakan dengan petanda-petanda lain seperti berani, gagah, berpengaruh, merusak kemapanan, dan berani mati. Hubungan metaforik muncul karena dengan adanya kekuatan represi suatu penanda diganti dengan penanda baru. Penanda pertama akan berubah menjadi petanda sejauh penanda pengganti menempati kedudukan penanda terganti dan merepresentasikanya. Imajinasi asosiatif yang muncul dari pergantian posisi penanda mendorong subyek menuju posisi dan mengidentifikasi ciri, karakter, status, dan citraan yang terhubung dengan satu atau lebih penanda utama pengganti yang mengonstitusi ego idealnya.
Citraan adik kakek buyut Takashi adalah hasil identifikasi dalam tataran Yang Imajiner yang kemudian mengalami represi. Dalam tataran Yang Simbolik citraan tersebut dialihkan ke petanda aksi penjarahan supermarket Kaisar. Jadi aksi penjarahan supermarket Kaisar merupakan simbol/ metafor dari hasil identifikasi tokoh citraan adik kakek buyut bagi Takashi.
Istilah Kaisar sendiri merupakan metafor yang menyimbolkan penguasa atas penduduk lembah.
“… setelah perang usai, tanah pemukiman Korea dijual kepada orang Korea yang kerja paksa di hutan, tapi tak lama kemudian, salah satu dari mereka mendapatkan monopoli tanah dengan cara membeli semua lahan dari yang lain. Dia kemudian membangun dan membangun, dan akhirnya jadilah Kaisar yang kau lihat sekarang ini.” (Oe, 2004:111)

Sedangkan kata lembah juga mengandung metafor sebagai yang dkuasai karena lembah posisinya di bawah, tidak seperti menjulangnya gunung. Masyarakat lembah dikenal malas, suka mabuk-mabukan, dan suka merampok, maka perekonomian cepat dikuasai oleh orang-orang Korea yang dulunya hanya sebagai pekerja paksa di hutan.
Petanda-petanda lain yang digambarkan dalam novel ini juga bermunculan sebagai penanda berani, gagah, berpengaruh, merusak kemapanan, dan berani mati. Penanda merusak kemapanan ditunjukkan oleh petanda tindakan Takashi dalam menciptakan suasana tidak tentram di masyarakat lembah mengenai ide menghancurkan Kaisar dan bisnisnya yaitu dengan menjual rumah gudang dan melakukan penjarahan supermarket. Di samping itu petanda lain yaitu petanda berani dan gagah dengan meniduri kakak iparnya. Ini artinya ia telah merusak kemapanan kehidupan rumah tangga Mitsusaburo dan Natsumi dalam masalah seks. Mitsusaburo sudah merasa bahwa dirinya dan Natsumi sama-sama memahami kehidupan seksual mereka setelah memperoleh anak yang cacat. Kemudian penanda berani mati dimunculkan lewat petanda tindakan bunuh diri.
Kekaguman Takashi terhadap adik kakek buyutnya (ada dalam Yang real) melahirkan suatu hasrat menjadi yang melahirkan perilaku narsis dalam dirinya. Hal ini terlihat bagaimana Takashi memperlihatkan eksistensi dirinya lewat gaya hidupnya yang menyamai sang idola. Dengan demikian penanda utama pemberontak atau pemberontakan melekat erat dalam ego Takashi yang direpresentasikan melalui petanda-petanda. Petanda-petanda tersebut ada yang dialihkan sehingga menjadi penanda alih yang akhirnya diikuti oleh petanda-petanda lain dalam hubungan paradigmatik (ada dalam tataran Yang Simbolik) dan sintagmatik (ada dalam tataran yang Imajiner) yang terwakili oleh konsep metaforik dan metonimi.
b. Pemenuhan Hasrat Takashi
Dalam novel ini, hasrat Takashi untuk menjadi seperti adik kakek buyutnya mengantarkannya pada sebuah fantasi. Fantasi Takashi itu merupakan apa yang tersisa dari represi tataran Yang Simbolik. Karena letak fantasi itu berada pada tataran Yang Nyata, maka Takashi tidak akan pernah meraihnya.
Fantasi Takashi tersebut merupakan obyek yang berharga yang bernaung dalam tataran Yang Nyata. Takashi telah mengalami proses identifikasi pada penanda utama, yaitu adik kakek buyut dan demi struktur dan interpelasi penanda tersebut serta kenyamanan eksistensial, ia benar-benar berperilaku layaknya seorang pemimpin pemberontakan, atau katakanlah, ia berperilaku sebagaimana seorang pemberontak. Ini berarti Takashi rela mematikan hal-hal yang ada pada dirinya sendiri demi menjaga struktur penanda itu. Tetapi bersamaan dengan itu terjadi represi atau larangan-larangan yang tak sesuai dengan kehendak penanda simbolik. Dalam hal ini larangan-larangan atau represi itu muncul dari sikap bertentangan dari Mitsusaburo dan kekuasaan Kaisar. Meskipun demikian, kenikmatan yang dikorbankan tetap bertahan dan tampil dalam bentuk yang lain. Kenikmatan yang dikorbankan Takashi adalah bagaimana ia telah berusaha mengidentifikasi dirinya dengan sosok adik kakek buyut melalui tindakan-tindakannya. Dalam satu hal, Takashi begitu bersemangat melakukan sesuatu yang mirip adik kakek buyutnya.
“… Tampaknya tindakannya dipengaruhi oleh peristiwa 1860. Hari ini contohnya, dia mulai mengumpulkan anak-anak muda di lembah untuk berlatih sepak bola, hanya karena dia senang dengan cerita tentang adik laki-laki kakek buyut yang membabat hutan sebagai tempat latihan guna menyiapkan para pemuda itu untuk berjuang.” (Oe, 2004:29)

Hal lainnya misalnya, Takashi sangat tersinggung dengan pendapat Natsumi yang meremehkan sejarah keluarga Nedokoro. Kemarahannya disebabkan ucapan Natsumi yang menyebut legenda tua terhadap cerita heroik mengenai adik kakek buyut yang memimpin pemberontakan. Ia begitu mengidolakan adik kakek buyut itu.
“… Bagaimana bisa kau begitu terbawa legenda tua ini, padahal kau kesakitan dan berdarah?” “Ada juga yang bisa dipelajari dari legenda,” ujar Takashi kesal. Itulah pertama kalinya dia menunjukkan sikap pemarahnya pada istriku. (Oe, 2004:81)

Takashi juga sangat tidak setuju dengan pendapat Mitsusaburo yang mengatakan bahwa adik kakek buyutnya melarikan diri ke Kochi meninggalkan anak buahnya dihukum mati. Ia berusaha menjaga struktur idolanya itu dan klimaksnya ialah ketika ia harus merasakan terluka dalam ‘pemberontakan’nya dan menyudahi hidupnya dengan tembakan di kepala.
 Hasrat Takashi memang tidak akan tercapai, tetapi setidaknya ia telah melakukan tindakan-tindakan yang membawanya pada kenikmatan hidupnya karena telah berbuat seperti apa yang telah dilakukan oleh idolanya. Inilah yang disebut pemenuhan hasrat itu sendiri meskipun tampil dalam bentuk yang lain.
Bunuh diri Takashi sebenarnya merupakan pemenuhan dari hasrat itu sendiri. Dengan bunuh diri ia merasa lengkap sebagai seorang pemberontak yang sebenarnya. Itu karena bunuh diri dihadirkan sebagai petanda dari penanda berani mati yang mengikuti penanda pemberontak dalam hubungan paradigmatik. Jadi bunuh diri dalam novel ini muncul sebagai unsur metafor yang menyimbolkan pemenuhan hasrat Takashi, yaitu hasrat menjadi seperti adik kakek buyutnya.
Hasrat untuk memiliki Takashi adalah kelanjutan dari hasrat untuk menjadi. Keinginan Takashi memiliki kekuasaan sebagai seorang pemimpin dengan melakukan penjarahan supermarket Kaisar menunjukkan betapa penting posisi Liyan disamping liyan. Kaisar dan bisnis super market-nya adalah lambang kekuasaan di masyarakat lembah. Hasrat memilikinya mendorongnya untuk menghancurkan simbol kekuasaan itu untuk seterusnya dirinya yang akan menjadi simbol kekuasaan akibat dari keterpenuhannya akan hasrat untuk menjadi. Seperti yang ditegaskan oleh Saussure bahwa petanda selalu mengikuti penanda. Tanpa adanya hubungan keeratan ini maka makna tidak dapat muncul. Dengan kata lain, penjarahan terhadap supermarket merupakan petanda dari penanda kekuasaan.

Daftar Pustaka
Barry, Peter. 2010. Beginning Theory. Yogyakarta: Jalasutra.
Boeree. C. George. 2008. General Psychology. Yogyakarta: Prismasophie.
Freud, Sigmund. (2006). Memperkenalkan Psikoanalisis: Lima ceramah. Terj. K. Bertens. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Oe, Kenzaburo. 1995. Jeritan Lirih (The Silent Cry (万延元年のフットボール, Man'en gan'nen no futtobōru) diterjemahkan oleh Utti Setiawati. Yogyakarta: Jalasutra
Ratna, Nyoman Kutha. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004.

Tidak ada komentar: